Artikel
KERJA KERAS MEMBENTUK ANAK SHALEH
Tanggal : 28/08/2010, dibaca 470 kali.
Rasulullah s.a.w memberi pedoman kepada kita, bahwa pada saat semua amalan yang lain menjadi terputus, maka anak shaleh yang mendo’akan orang tuanya merupakan salah satu peninggalan yang sangat berharga. Lebih dari itu, buah dari pendidikan yang baik bagi anak-anak akan dirasakan bukan hanya oleh orang tuanya, melainkan juga oleh orang-orang yang ada di sekitarnya bahkan masyarakat dan negaranya.
Betapa tidak, seorang anak yang tumbuh menjadi orang yang berilmu, taat kepada Allah, dan berakhlaq mulia adalah dambaan semua orang. Kehadirannya selalu dirindukan karena ia bermanfaat. Rasulullah saw mengilustrasikan sosok manusia seperti ini dengan ungkapan “khairunnas ‘anfauhum linnas”. Sebaik-baik manusia adalah yang dirasakan manfaatnya oleh manusia yang lainnya”.
Untuk mewujudkan sosok anak shaleh sebagaimana diungkapkan di atas, pendidik khususnya orangtua harus kerja keras karena ia tidak akan lahir tanpa; doa, mendahulukan kepentingan Allah diatas segala-galanya dan tentu saja diperlukan sebuah pengorbanan. Doa merupakan permohonan langsung seorang hamba kepada Khaliknya, kita boleh meminta apa saja kepada Allah, demikian halnya dengan kehadiran anak shaleh. Lahirnya Nabi Ismail as sebagai sosok anak shaleh tidak lepas dari do’a Nabi Ibrahim as bapaknya. Permohonan dan kesungguhan beliau diabadikan dalam al-Qur’an surat Ash-Shaffaat ayat 100 “Rabbi hablii minashaalihiin”. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh.
Doa yang diungkapkan dengan penuh ketulusan dan kesungguhan terlebih lagi disampaikan pada saat-saat mustajab, seperti pada waktu sepertiga malam memungkinkan do’a tersebut akan dikabulkan. Rasulullah saw bersabda “ Tuhan kami turun setiap malam ke langit dunia ketika masih tinggal sepertiga malam yang akhir, maka Dia berfirman, barangsiapa yang berdo’a kepadaku, maka Aku perkenankan untuknya, dan barangsiapa yang meminta kepadaku, maka Aku akan berikan padanya, dan barangsiapa yang minta ampun kepadaku, maka Aku ampunkan baginya” (al-Hadits).
Selanjutnya, sebagai ungkapan rasa syukur kita atas pemberian nikmat yang telah diberikan Allah, maka kita harus mendahulukan perintah dan kemauan Allah diatas segala-galanya. Dalam lanjutan ayat tersebut dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim as diminta untuk menyebelih anak yang sangat disayanginya dan sudah lama ditunggu kehadirannya di tengah-tengah keluarga. Namun Nabi Ibrahim as sadar betul bahwa diri dan anaknya adalah miliki Allah, maka tidak ada pilihan lain kecuali melaksanakan perintah-Nya. Karena itu, tidak heran ketika hal itu dikomfirmasikan kepada anaknya Ismail as, dengan spontan dan tampa kereguan ia merespon pernyataan bapaknya dengan ungkapan “wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Ungkapan itu hanya akan bisa dilontarkan oleh anak shaleh, yakni anak yang menyadari betul bahwa ia harus berbuat baik terhadap ibu bapaknya tapi dia juga menyadari betul bahwa perintah Allah diatas segala-galanya.
Selain kedua hal yang telah di sebutkan di atas, upaya yang dapat kita lakukan dalam membentuk anak shaleh ini adalah melakukan pengorbanan. Pengorbanan merupakan ujud keseriusan orangtua atas keinginanya agar anak-anaknya menjadi shaleh dan shalehah. Pengorbanan tadi bisa berbertuk ilmu, harta atau yang lainnya.
Para orangtua di samping melakukan tugas rutin kesehariannya yaitu mencari nafkah, mereka juga harus merelakan sebahagian waktunya untuk belajar atau menuntut ilmu agar mereka faham betul bagaimana cara mendidikan anak yang baik. Dalam upaya membentuk anak shaleh, orangtua juga memerlukan dana yang tidak sedikit. Ini artinya mereka dituntut untuk mencari nafkah guna memenuhi berbagai kebutuhan keluarga, baik yang berkaitan dengan kebutuhan sandang-pangan, atau yang berkenanan dengan biaya pendidikan anak-anaknya. Selain kedua bentuk pengorbanan di atas, yang tidak kalah pentingnya bagi para orangtua adalah kesabaran. Sabar mengandung arti bahwa setiap keinginan memerlukan sutau proses dan dalam menjalankan proses tadi sudah barang tetntu akan dihadapkan dengan berbagai kendala. Jadi melalui kesabaran ini, para orangtua diharapkan mampu memanaj diri dan keluarganya agar bisa menyelesai berabagai persoalan yang dihadapi dan selalu fokus pada cita-cita mulya yaitu, mewujudkan anggota keluarga yang shaleh dan shalehah.
Selain orangtua, dalam membentuk anak shaleh peran guru juga sangat penting karena seringkali dalam beberapa hal anak akan lebih percaya kepada guru ketimbang orangtuanya. Oleh sebab itu, orangtua dituntut untuk menjalin komunikasi yang baik dengan guru dan sekolah, bila diperlukan dapat dibentuk sebuah ikatan semacam Parents Teachers Association. Melalui wadah ini diharapkan para orangtua dan guru memiliki persepsi yang sama tentang pentingnya kehadiran anak shaleh baik di rumah ataupun di sekolah yang ditindak lanjuti dengan sebuah komitmen dan kerja keras untuk mewujudkannya. Mudah-mudah bisa terealisasi, amin.
Pengirim : Drs. H. Asep Encu ( Kepala MAN 2 Kota Bogor )
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
- 10 jenis kutu komputer
- Poros Bumi Bergeser
- Planet Biru (Seperti Bumi)
- Kontinuitas Amaliah Pasca Ramadlan
- BELAJAR DARI RAMADHAN
Komentar :
Kembali ke Atas


Visitors : 25639 visitors
Today : 44 users