Banner
jardiknaswikipedia Indonesia
Login Member
Username:
Password :
Jajak Pendapat
Bagaimana menurut Anda tentang tampilan website ini ?
Bagus
Cukup
Kurang
  Lihat
Statistik
  Visitors : 44954 visitors
  Hits : 2551 hits
  Today : 116 users
  Online : 3 users
:: Kontak Admin ::

   
Agenda
20 May 2012
M
S
S
R
K
J
S
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9

BELAJAR DARI RAMADHAN

Tanggal : 29/09/2011, dibaca 106 kali.

Tidak ada perpisahan yang paling berkesan kecuali perpisahan dengan bulan Suci Ramadan. Kenapa tidak, karena Ramadhan merupakan bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam bila dibandingkan dengan 11 bulan lainnya, bahkan Rasulullah saw dalam sebuah haditsnya yang diriwiyatkan oleh Imam Muslim menyatakan “Seandainya manusia mengetahui akan kebaikan yang terdapat pada bulan Ramadhan, maka umatku pasti menghendaki agar seluruh bulan dalam satu tahun menjadi bulan ramadhan kesleuruhannya”.

Pada bulan Ramadhan, Allah SWT sengaja menjadikan malam lailatul qadar sebagai penyeimbang bagi umat Islam yang menghendaki agar amal yang dilakukannya memiliki kesetaraan dengan umat terdahulu yang memiliki umur yang panjang dan mampu mengisinya dengan amal kebajikan. Seandainya saja kita semua mampu mengisi bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya sehingga tiap bulan itu tiba kita dapat  memperoleh lailatul qadar, maka usia ibadah kita lima tahun saja sudah memiliki kesetaraan dengan orang saleh terdahulu yang memiliki usia 415 tahun. Namun tentu saja tidak mudah mendapatkannya. Hal ini terjadi lebih bermuara pada diri kita masing-masing. Sepuluh malam terakhir di mana salah satu malamnya tertdapat  malam lailatul qadar bahkan banyak di antara kita malah mengabaikanya. Padahal Rasulullah saw sudah menagaskan “Carailah lailatul qadar pada malam-malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan” (H.R Syaikhani dan Imam Turmudzi).

Puasa yang dilakukan umat Islam digaris bawahi oleh al-Qur’an, yakni “bertujuan untuk memperoleh taqwa”. (la’alakum tatakun). Imam al-Gazali mengatakan bahwa puasa yang baik akan dapat menghantarka pelakunya untuk memperoleh derajat mutakin dan mukorrobin. Untuk mencapai derajat tersebut menurut Imam al Gazali  dalam menjalankan ibadah puasa diperlukan beberapa syarat: (1) Menahan pandangan dari semua hal yang dilarang, (2) Menahan lidah dari perkataan keji dan kotor, (3) Menahan telingan dari perkataan yang dapat menyeret pada perbuatan dosa, (4) Menahan anggota badan dari perbuatan terlarang, (5) Menahan nafsu makan yang berlebihan, (6) Setiap kali berbuka selalu khawatir kalau terdapat kekurangan atau ketidak sempurnaan dalam menjalankan ibdah.

Sebagai umat Muhammad sejatinya keenam hal yang disampaikan oleh Imam al Gazali tidak hanya kita lakukan pada bulan Ramadhan saja, tapi dapat kita lakukan pada sebeles bulan berikutnya. Selanjutnya berkenaan dengan orang  yang telah memperoleh derajat mutaqin dan muqorrobin, diilustrasi oleh Hasan al-Basri yang dikutip oleh Quraish Shihab sebagai berikut:

 

“Anda akan menjumpai orang tersebut: teguh dalam keyakinan, tekun dalam menuntut ilmu, semakin berilmu semakin merendah, semakin berkuasa semakin bijaksana, tampak wibawanya di depan umum, jelas syukurnya dikala beruntung, menonjol qonaahnya dalam pembagian rijki, senantiasa berhias walaupun miskin,  tidak boros walapun kaya, murah hati dan murah tangan, tidak menghina, tidak mengejek, tidak menghabiskan waktu dengan sia-sia, dan tidak berjalan membawa fitnah, disiplin dalam tugasnya, tinggi dedikasinya, serta terpelihara identitasnya, tidak menuntut yang bukan haknya dan tidak menahan hak orang lain. Kalau ditegur ia menyesal, kalau bersalah ia istigfar, bila dimaki ia tersenyum sambil berkata: Jika makian Anda benar, maka aku bermohon semoga Allah mengampuniku. Dan jika makian Anda keliru maka aku bermohon semoha Tuhan mengampunimu”.

Rasulullah juga dalam sebuah hadits Qudsi menggambarkan sosok orang mutakin dan mokorobin sebagai berikut: “Seorang hamba akan mendekatkan diri kepada Ku (Allah) hingga Aku mencintanya, dan bila Aku (kata Allah) mencintanya, menjadilah pendengaran-Ku yang digunakannya untuk mendengar, penglihatan-Ku yang digunakannya untuk melihat, tangan-Ku yang digunakannya untuk bertindak, serta kaki-Ku yang digunakannya untuk berjalan”.

Mudah-mudahan apa yang diilustrasikan oleh Hasan al-Basri dan ditegaskan oleh Rasulullah saw, dimiliki oleh kita semua, Amin.  

 

 



Pengirim : Bapak DR. H. Asep Encu M.Pd. ( Kepala MAN 2 Kota Bogor )
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas