Artikel
Kontinuitas Amaliah Pasca Ramadlan
Tanggal : 29/09/2011, dibaca 104 kali.
Hampir satu bulan Ramadlan meninggalkan kita. Ia ibarat sekolah atau madrasah yang menjadi tempat pengajaran dan pendidikan seorang anak manusia untuk menjadi lebih baik. Khusus untuk Ramadlan, tujuannya ialah untuk menjadikan orang yang melaksanakannya menjadi manusia bertaqwa. Dalam QS Albaqarah ayat 183, tujuan puasa dinyatakan dengan jelas pada ujung ayat itu, la’allakum tattaquun, “Agar kalian bertaqwa”.
Banyak ulama yang memberikan pengertian terhadap istilah taqwa. Secara umum, taqwa ialah melaksanakan segala perintah Allah Swt dan menjauhi segala larangannya. Taqwa dalam tujuan puasa bukan sejenak, bukan menjadi bertaqwa sesaat saja ketika Ramadhan, namun taqwa tersebut ialah berkepanjangan. Hal ini dibuktikan dengan pemakaian kata tattaquun dalam ayat puasa tadi, yakni menggunakan kata kerja (fi’il) mudhari’, yang berarti sedang dan akan terus berlangsung hingga waktu mendatang. Oleh karena itu, pasca Ramadhan, kita harus semakin taqwa, semakin menjalankan perintah Allah Swt dan menjauhi laranganNya. Dan, Ramadlan lah sekolah yang meluluskan pelaku (salik)nya menjadi manusia bertaqwa
Di bulan suci, kita diajarkan berlaku sabar. Bila kita menghadapi masalah berat dan stress, kita merasa tertekan, dan rasanya kita ingin marah. Inilah ujian ketika berpuasa, bahkan ujian itu akan lebih berat saat kita berbuka. Kesabaran yang ditempa saat Ramadlan tidak hanya untuk saat itu, tapi kesabaran itu merupakan penempaan dan pelatihan agar kita sabar pula pada hari-hari selanjutnya. Orang yang bersabar telah Allah janjikan balasannya sebagaimana firman Allah dalam QS Az-Zumar ayat 10: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”
Bulan Syawwal adalah bulan setelah Ramadlan. Ada yang mengartikan bahwa Syawwal artinya “meningkat”. Ini merupakan isyarat agar kita meningkatkan ibadah di bulan-bulan selanjutnya. Dalam ibadah haji, pelakunya selalu memohon untuk menjadi haji mabrur, yakni bila saat ibadah haji ia beribadah sungguh-sungguh, maka ibadah itu harus berlanjut. Sedangkan bagi puasa, gelar yang sering dituju ialah Muttaqiin, yakni menjadi orang bertaqwa, tidak saat Ramadhan saja, tapi harus berkelanjutan. Pada Ramadlan ruhani kita seperti dicharge hingga full agar bisa digunakan hingga sebelas bulan selanjutnya.
Usai Ramadhan, banyak ibadah-ibadah lain yang bisa dilaksanakan. Ada ibadah wajib dan ibadah sunnah. Sebagai analogi, dalam usaha atau bisnis, tentu kita ingin untung. Dalam ibadah pun harus demikian. Ibadah wajib, itu ibarat modal. Kalau sekedar ibadah wajib saja, tentu hanya akan balik modal saja. Bila ingin untung, maka ibadah sunnah harus dilakukan. Wajibnya ditegakkan, sunnahnya dihidupkan!
Bila sebulan lalu kita berpuasa wajib Ramadlan, di luarnya pun kita masih bisa berpuasa sunnat. Selain itu, adapula ibadah sunnat lainnya, seperti shalat dan sedekah sunnat. Di Ramadlan ada zakat fitrah yang diwajibkan pada setiap muslim yang mengalami Ramadlan dan petang Syawwal, maka di luar Ramadlan kita pun mestinya sudah terdidik untuk saling berbagi. Bahkan dalam setiap kesempatan ayat-ayat Alquran, Allah selalu menyebut perintah shalat berdampingan dengan perintah zakat. Ini mengindikasikan bahwa keshalehan kita tidak sekedar kesalehan individual, namun juga kesalehan secara sosial.
Pada Ramadlan banyak orang berbondong-bondong memakmurkan masjid dengan cara beri’tikaf dan bertadarrus. Sebagai muslim yang baik tentunya beri’tikaf, shalat berjamaah tepat waktu di masjid, mengaji Alquran tidak hanya di bulan Ramadhan saja, namun di bulan-bulan lainnya pun tetap dijalankan. Alquran yang kita yakini sebagai firman Allah mestinya tidak sekedar dibaca, namun kita pun sebaiknya menghafal dan memahaminya dengan baik, sehingga mampu mengamalkan segala pesan-pesan Allah tersebut. Dengan menjalankan amaliah Ramadlan secara kontinu hingga bulan-bulan selanjutnya, kita dapat menjadi muslim yang muttaqun dan muflihuun, sehingga keluar Ramadhan ini kita termasuk di antara golongan yang al-’aidiin wal faa iziin.
Pengirim : Yudin Taqyudin (Pemred MAGMA)
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
- 10 GEMPA TERBESAR SEJAK 1900
- TRIK CEPAT ATASI KOMPUTER NGE-HANG
- Pertolongan Pertama pada Handphone yang Tercebur
- 10 jenis kutu komputer
- Poros Bumi Bergeser
Komentar :
Kembali ke Atas


Visitors : 44955 visitors
Today : 117 users